BUMI TIDAKLAH BERPUTAR, SEBELUM DIPERINTAHKAN UNTUK BERPUTAR

Kamis, 19 Maret 2015

Mentari cahya dalam bunga jingga.
Ia mungkin tak bertahta
Apalagi bermahkota.

Bila jingga telah merebah,
Itulah mungkin arti sebuah makna.
Bila bunga telah merekah
Itu pula lah pelangi kaswari.

Kita pernah dalam cuaca
Berjingga atau bercahya
Kita pernah dalam luasa
Yang tak mampu merangkai apa.

Semua dan sudah,
Merasa dan menjiwa.

Berjumpa bersama bayang telepati
Bertaqarub menghamba dan berpasrah dalam kuasa Ilahi

Jumat, 20 Februari 2015

Kisah Kakek Penghafal Qur'an

GriyaQuran.net Kisah ini disampaikan oleh Ustadz Bachtiar Nasir  dalam sebuah kajian  tafsir di AQL yang membahas tentang surat Al-Baqarah ayat 120-121. Beliau bercerita tentang kisah nyata seorang kakek tua penghafal quran yang membuat jamaah berdecak kagum.
Dalam suatu waktu, ada seorang kakek tua yang hendak dioperasi karena mengalami sakit, dokter menyarankan untuk segera dioperasi demi menyembuhkan penyakitnya.
Di luar dugaan, kakek tersebut terisak dalam tangis yang mendalam, dokter pun coba menguatkan dan meyakinkan sang kakek agar kakek tersebut tidak perlu khawatir karena penyakit yang dialaminya akan sembuh atas izin Allah dan tidak perlu khawatir terhadap pelaksanaan operasi karena dokter tersebut sudah berpengalaman untuk operasi penyakit tersebut dan besar sekali kemungkinan keberhasilannya.
Lalu kakek tersebut membalas perkataan dokter tersebut…
“Dok, bukan itu yang saya khawatirkan, in sya Allah saya siap dan tak takut untuk menjalani proses operasinya. Saya menangis karena saya sedih, akan banyak waktu yang terbuang saat operasi nanti pastinya, sedangkan saya memiliki kebiasaan untuk murajaah hafalan quran saya 12 juz tiap harinya, saya khawatir tidak dapat menyelesaikan hafalan saya di hari ini karena operasi ini, sebab itulah saya menangis…”
Lalu kakek tersebut melanjutkan dengan pertanyaan “Dok, seberapa lama saya akan dioperasi?”
“Insya Allah hanya 4 jam kek” jawab dokter.
“Kalau begitu, berikan saya waktu di satu jam pertama untuk muraja’ah hafalan quran saya, lalu lanjutkanlah tindakan operasi setelahnya” jawab kakek memberikan solusinya.
Dokter pun menyetujuinya.
Pada satu jam pertama dokter memberikan waktu untuk kakek murajaah hafalannya di ruang operasi, setelah waktu berjalan satu jam, dokter dan timnya melakukan tindakan medis, dibiuslah kakek tersebut dan melaksanakan tindakan operasi.
Operasi tersebut berjalan lancar, tidak ada kendala yang berarti. Allah menolong keduanya.
Setelah kakek tersebut tersadar, dokter yang mengoperasinya tersebut berkata:
“Kek, baru kali ini saya mengalami kejadian yang luar biasa ketika mengoperasi pasien. Setelah satu jam kakek murajaah hafalan quran, kami pun membius kakek, saya yakin sudah tepat dosis bius kepada kakek, saya yakin dosis tersebut akan membuat kakek tak sadarkan diri. Tapi masya Allah, sepanjang operasi kakek tak berhenti sedikitpun membaca quran, seolah obat bius yang kami suntikan tak ada pengaruhnya dan rasa sakit saat operasi tak dirasakan”
Masya Allah… hikmah yang luar biasa yang dapat kita ambil dari kisah tersebut. Bagaimana dengan kita? Sudahkah ada kenikmatan dan kekhusyu’an ketika kita membaca quran? Berapa banyak juz yang kita baca tiap harinya? Berapa banyak ayat quran yang kita hafal tiap harinya? Berapa banyak ayat quran yang kita murajaah tiap harinya dan berapa banyak ayat quran yang kita amalkan tiap harinya???
Sungguh, masih amat sedikit amalan amalan kita.
Orang bijak mengatakan:
“Janganlah takut dengan rezekimu pada hari ini, karena Allah sudah menjamin rezeki bagi orang yang hidup. Khawatir dan takutlah dengan kualitas dan kuantitas amalmu, apakah dapat mengantarkanmu ke surga? Karena tidak ada jaminan dari Allah bahwa kita akan masuk ke dalam Surga-Nya”
Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber : Dakwatuna.com

Kamis, 29 Januari 2015

Sebuah Cinta

Sebuah Cinta
kadang membuatmu terluka
bahkan mungkin sangat dalam.
Hingga hanya sebuah diam
yang dapat mewakili setiap keadaan.

Sebuah Cinta
bukanlah barang mati
yang dapat terhapus dengan terpaan air pantai
ataupun tumpukan tipe x

Sebuah Cinta
bukanlah barang beku
yang tak punya prinsip
seperti air.

Sebuah Cinta adalah Indah.
Terhimpun dari sebuah ikatan bernama sahabat dan berkumpul
membaur menjadi kenangan-kenangan.
saat suka, duka, sedih dan tersayat,
telah kita coba dan lewati bersama. Itulah Cinta.

Biar kau telah terpisah jauh
bersama jarak dan waktu.
Tak kan mampu menghapus
semua cerita cinta yang kau punya dariku.
Kecuali kau buat aku amnesia
dan menempatkanku di tempat yang tak pernah ku kenal.
Tapi bila Tuhan berkehendak
menemukan kita,
jangan salahkan aku bila merasa mengenal dan dekat denganmu.
Karena ku tak bisa memaksa Tuhan menghadirkan atau menghapus
ingatan dariku.
Dan aku juga tidak bisa memaksa ruh ku untuk mengenal
ruh mu.

Untuk sebuah cinta, bila
kita terluka. Tolong jangan hapus
semua Cinta.

Selasa, 23 Desember 2014

Episod diri

Hari, apa kabar? kita bertemu lagi di pagi ini dengan tiap episod2 diri menjelang berakhir tahun 2014 ini. Alhamdulillah, kita masih bisa bertemu. Akupun tak sanggup membayangkan bila ternyata esok tak diizinkan bertemu denganmu lagi. Bukan karena tak sanggup, tapi tak siap. Tak siap menyiapkan bekal masa panjang, Akhirat.
Hari, kau telah bergulir bersamaku lebih dari 9210 kali. Waktu yang dibilang tak singkat. Kau membuatku bahagia, sedih, terluka, tertawa, kecewa, terkejut bahkan terkagum melihat keajaiban-keajaiban hidup yang kau suguhi. Berkali-kali aku jatuh, berkali-kali aku letih, berkali-kali pula Allah beri cinta. Tanpa bosan apalagi terpaksa.
Hari, hal apa yang berarti yang telah aku tinggalkan untuk aset surgawi?
Hal apa yang bisa ku banggakan saat menghadap sang Rabbi?
Mampukah kau membantuku dalam menjawab pertanyaan itu nanti?
Hari... ku tak pernah tahu sampai kapan ku akan menemanimu untuk berbagi cerita dan pagi.
Terkadang sulit kurasa membuka mulut untuk sekedar bercerita tentang kisah hari ini.
kaulah yang diberi tugas untuk menjalani. walau tetap takdir dan kitalah yang menentukan sikap kita pada tiap peristiwa.
Hari, apa kabar kau pagi ini?
Mengapa kau terus saja bergulir tanpa pernah berhenti semenit atau bahkan sedetik. Tahukah kau, aku telah menghabiskan ratusan juta ribu detik dengan kesia-siaan dan keterlenaan.
Dimana kau saat aku tak berdaya dan sepi? Mengapa tak kau ingatkan aku saat lalai dan santai.
Andai kau bisa bicara, pastikan kau katakan, "Ayo teman, bangkit. Bangunlah."
Aku terlalu tak menghiraukanmu. Kisah hidupku terkadang membiusku. Untuk ukuran galau dan pilu, aku pasti menciut. Sedang bahgia kadang menghipnotis jiwa.
Fokus kata ustadz. Mungkin itulah yang kan kita coba untuk jalani. Agar efisiensi waktu terasa berarti.

Tapi, tak bolehkah aku menitikkan air mata untuk melepas kacamata yang menujukkan bahwa aku hanyalah manusia lemah. yang juga sedih saat ditinggalkan, yang juga marah saat disepelekan. Hmmm.. kau juga manusia hati, menangislah bila itu mampu mengobati luka. Hingga ingin rasanya ku berteriak, "Jangan pergi!." Aku sudah cukup merasakan kehilangan akhir-akhir ini. Haruskah kalian pergi lagi saat ini??. Mengapa? mengapa disaat yang berdekatan. disaat sedihku baru akan reda, kalian akan pergi juga?. Adek, inilah tarbiyah. tarbiyah hidup yang kini coba kujalani pelan dan perlahan. Aku tak sanggup. Tapi Allah tak akan membebani seseorang diluar batasnya. Tuhan..., Kuatkan! hidup ini betul-betul mentarbiyahku. Semoga dengan perjalanan tarbiyah ini menjadikanku lebih baik, kuat, dan semakin dicintai olehMu. Ampuni segala khilaf dan salahku Rabbi. Maa Lana Ghoiruka ya Allah, Nastargfirullah. Kami tak mempunyai siapapun selain Engkau ya Allah. Tolong, ampuni kami.