Hari, apa kabar? kita bertemu lagi di pagi ini dengan tiap episod2 diri menjelang berakhir tahun 2014 ini. Alhamdulillah, kita masih bisa bertemu. Akupun tak sanggup membayangkan bila ternyata esok tak diizinkan bertemu denganmu lagi. Bukan karena tak sanggup, tapi tak siap. Tak siap menyiapkan bekal masa panjang, Akhirat.
Hari, kau telah bergulir bersamaku lebih dari 9210 kali. Waktu yang dibilang tak singkat. Kau membuatku bahagia, sedih, terluka, tertawa, kecewa, terkejut bahkan terkagum melihat keajaiban-keajaiban hidup yang kau suguhi. Berkali-kali aku jatuh, berkali-kali aku letih, berkali-kali pula Allah beri cinta. Tanpa bosan apalagi terpaksa.
Hari, hal apa yang berarti yang telah aku tinggalkan untuk aset surgawi?
Hal apa yang bisa ku banggakan saat menghadap sang Rabbi?
Mampukah kau membantuku dalam menjawab pertanyaan itu nanti?
Hari... ku tak pernah tahu sampai kapan ku akan menemanimu untuk berbagi cerita dan pagi.
Terkadang sulit kurasa membuka mulut untuk sekedar bercerita tentang kisah hari ini.
kaulah yang diberi tugas untuk menjalani. walau tetap takdir dan kitalah yang menentukan sikap kita pada tiap peristiwa.
Hari, apa kabar kau pagi ini?
Mengapa kau terus saja bergulir tanpa pernah berhenti semenit atau bahkan sedetik. Tahukah kau, aku telah menghabiskan ratusan juta ribu detik dengan kesia-siaan dan keterlenaan.
Dimana kau saat aku tak berdaya dan sepi? Mengapa tak kau ingatkan aku saat lalai dan santai.
Andai kau bisa bicara, pastikan kau katakan, "Ayo teman, bangkit. Bangunlah."
Aku terlalu tak menghiraukanmu. Kisah hidupku terkadang membiusku. Untuk ukuran galau dan pilu, aku pasti menciut. Sedang bahgia kadang menghipnotis jiwa.
Fokus kata ustadz. Mungkin itulah yang kan kita coba untuk jalani. Agar efisiensi waktu terasa berarti.
Tapi, tak bolehkah aku menitikkan air mata untuk melepas kacamata yang menujukkan bahwa aku hanyalah manusia lemah. yang juga sedih saat ditinggalkan, yang juga marah saat disepelekan. Hmmm.. kau juga manusia hati, menangislah bila itu mampu mengobati luka. Hingga ingin rasanya ku berteriak, "Jangan pergi!." Aku sudah cukup merasakan kehilangan akhir-akhir ini. Haruskah kalian pergi lagi saat ini??. Mengapa? mengapa disaat yang berdekatan. disaat sedihku baru akan reda, kalian akan pergi juga?. Adek, inilah tarbiyah. tarbiyah hidup yang kini coba kujalani pelan dan perlahan. Aku tak sanggup. Tapi Allah tak akan membebani seseorang diluar batasnya. Tuhan..., Kuatkan! hidup ini betul-betul mentarbiyahku. Semoga dengan perjalanan tarbiyah ini menjadikanku lebih baik, kuat, dan semakin dicintai olehMu. Ampuni segala khilaf dan salahku Rabbi. Maa Lana Ghoiruka ya Allah, Nastargfirullah. Kami tak mempunyai siapapun selain Engkau ya Allah. Tolong, ampuni kami.
Diri kita seperti susunan huruf-huruf alfhabet ini. Terserah kita mau bergabung dan menjadi rangkaian kata apa. Bila kita adalah huruf A. maka bisa menjadi huruf yang menyusun kata "BAIK" dan bisa pula menjadi kata "JAHAT". Hidup adalah Pilihan. Suka atau Terpaksa, Mau atau Tidak. Tapi tetap, semua akan kembali kepada Kita dan Pemilik Nya. Karena Hidup adalah Perjuangan dan Kita sebagai Mujahidnya."
BUMI TIDAKLAH BERPUTAR, SEBELUM DIPERINTAHKAN UNTUK BERPUTAR
Selasa, 23 Desember 2014
Kamis, 27 November 2014
Rahasia Rezeki
Allah sudah menentukan garis hidup kita. Karena sejatinya Allah yang menciptakan kita, dan Allah takkan mungkin menyia-nyiakan kita. Kita yang memilih ingin diurus Allah atau tidak. karena cahaya tetaplah ada, tinggal kita yang memilih mau mengambil cahaya atau tidak.
Seperti biasa, bahasa kita, bahasa sufi. :)
Seekor cicak tidak pernah mengeluh, protes apalagi berdemo pada Allah. Tentang makanannya yang memiliki sayap dan bisa terbang. Sedangkan ia hanya seekor cicak yang berjalan dengan kaki dan merayap di dinding tanpa bisa terbang. Lalu bagaimana cicak bisa makan? Apakah ia memakai sayap buatan untuk bisa mengejar nyamuk? Atau cicak mogok makan karena gak punya sayap? Atau cicak duduk menangis dan termenung mengasihani takdir karena terlahir menjadi cicak yang harus mengejar-ngejar nyamuk. (cinta tak kesampean ini ceritanya. hehe)
Tapi ternyata tidak. Allah telah berfirman inna ma'al 'usri yusro bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Bersama kesulitan ada kemudahan. Sang cicak masih bisa makan nyamuk yang bisa terbang walau cicak tak punya sayap. Bagaimana caranya ? cicak hanya butuh waktu dan strategi untuk menangkap makanan yang suka terbang itu.
Sipp... Jangan mau kalah sama cicak.
Semoga Allah berikan keyakinan dihati kita bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.
Love u All.
Seperti biasa, bahasa kita, bahasa sufi. :)
Seekor cicak tidak pernah mengeluh, protes apalagi berdemo pada Allah. Tentang makanannya yang memiliki sayap dan bisa terbang. Sedangkan ia hanya seekor cicak yang berjalan dengan kaki dan merayap di dinding tanpa bisa terbang. Lalu bagaimana cicak bisa makan? Apakah ia memakai sayap buatan untuk bisa mengejar nyamuk? Atau cicak mogok makan karena gak punya sayap? Atau cicak duduk menangis dan termenung mengasihani takdir karena terlahir menjadi cicak yang harus mengejar-ngejar nyamuk. (cinta tak kesampean ini ceritanya. hehe)
Tapi ternyata tidak. Allah telah berfirman inna ma'al 'usri yusro bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Bersama kesulitan ada kemudahan. Sang cicak masih bisa makan nyamuk yang bisa terbang walau cicak tak punya sayap. Bagaimana caranya ? cicak hanya butuh waktu dan strategi untuk menangkap makanan yang suka terbang itu.
Sipp... Jangan mau kalah sama cicak.
Semoga Allah berikan keyakinan dihati kita bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.
Love u All.
Kita sudah Pikun kah?
Dunia ini sudah pikun.
Hingga ia lupa apa itu benar dan salah
Dia lupa mana haram dan mana halal
Ia lupa mana teman, mana setan.
Begitulah..
Mungkin karena memang sudah terlalu tua dan lama ia menemani kehidupan
Dari nenek moyang kita Adam dan Hawa hingga cicit...cicit keberapa yang bahkan kita tak mampu menuliskan silsilah kita. Jangankan silsilah kita, silsilah para nabi saja mungkin tidak banyak yang tau.
Bila kita mempunyai nenek atau kakek yang sudah tua dan memiliki belasan cicit. Mungkin seperti itulah dunia.
Terkadang ia lupa apakah dia sudah dewasa atau anak-anak
Apakah ia sudah makan atau belum
Apakah sholat zuhurnya sudah 4 atau 2 rakaat.
Begitulah.. Pikun kembali ke masa awal
Dan sepertinya itu menular kepada makhluk bumi bernama manusia zaman ini.
Sama-sama pikun seperti tempat tinggalnya.
Semoga Allah berikan petunjuk dan hidayah didalam setiap kepikunan kita.
Hingga ia lupa apa itu benar dan salah
Dia lupa mana haram dan mana halal
Ia lupa mana teman, mana setan.
Begitulah..
Mungkin karena memang sudah terlalu tua dan lama ia menemani kehidupan
Dari nenek moyang kita Adam dan Hawa hingga cicit...cicit keberapa yang bahkan kita tak mampu menuliskan silsilah kita. Jangankan silsilah kita, silsilah para nabi saja mungkin tidak banyak yang tau.
Bila kita mempunyai nenek atau kakek yang sudah tua dan memiliki belasan cicit. Mungkin seperti itulah dunia.
Terkadang ia lupa apakah dia sudah dewasa atau anak-anak
Apakah ia sudah makan atau belum
Apakah sholat zuhurnya sudah 4 atau 2 rakaat.
Begitulah.. Pikun kembali ke masa awal
Dan sepertinya itu menular kepada makhluk bumi bernama manusia zaman ini.
Sama-sama pikun seperti tempat tinggalnya.
Semoga Allah berikan petunjuk dan hidayah didalam setiap kepikunan kita.
Langganan:
Postingan (Atom)